|
 |
PROFIL KETUA YAYASAN PENDIDIKAN MH.HUSNI THAMRIN |
| |
| Dr. H. Abdul Radjak, DSOG |
| |
Abdul Radjak, seorang dokter pendiri Yayasan Rumah Sakit Mohammad Husni Thamrin yang juga mendirikan beberapa akademi STIE dan STMIK, tampak selalu merasa terdorong ingin berperan lebih besar dalam perjuangan bangsa ini menjemput masa depan yang lebih baik. Dia telah memulai obsesi ini sejak masa muda di semua lingkungannya, dari lingkungan terkecil hingga lebih besar.
Apalagi dalam kondisi bangsa saat ini. Kendati amat pedih, harus diakui bangsa yang berpotensi besar ini, kini sedang menderita dan sakit. Stabilitas ekonomi dan keamanan terhempas. Penegakan hukum dan keadilan belum kunjung ada kepastian. Di sana-sini terjadi penjarahan, kerusuhan, pertikaian dan tawuran antar warga serta tindakan massa main hakim sendiri.
Abdul Radjak menggambarkan Peristiwa 12-13 Mei di Jakarta, sebagai salah satu dari rangkaian kerusuhan tragis yang telah mencoreng arang di dahi bangsa ini. Bangsa yang tadinya dikenal ramah, sopan dan santun, secara mengejutkan menampakkan wajah sakit dan menakutkan. Akibatnya di mata sebagian bangsa lain, para perusuh itu ibarat orang rimba yang hidup di alam modern dan global. Hal ini amat menggelisahkan semua orang yang peduli pada eksistensi dan kesejahteraan bangsa ini. Kepedulian ini pula yang mendorong Abdul Radjak selalu mengajak teman kerja dan teman bicaranya untuk menyamakan visi dan berbuat sesuatu yang bermuara pada pemberdayaan rakyat.
Bukankah bangsa ini adalah bangsa beradab dan berdaulat. Bangsa heterogen yang telah sepakat bersatu membentuk suatu negara hukum yang demokratis berasas Pancasila. Suatu bangsa yang bhinneka tunggal ika dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sesungguhnya, kata putera bangsa berdarah Betawi ini, perbedaan suku, ras, agama dan golongan adalah pelangi kekayaan bangsa ini. Kebhinnekaan ini sepatutnya menjadi suatu modal dasar dalam menapaki perjuangan mencapai kesejahteraan bersama.
Kehidupan Jakarta yang amat heterogen, tampaknya telah menyatu dalam aliran darah anak bangsa kelahiran Jakarta, 13 September 1943 ini. Bagi dia, Jakarta adalah kampung asli Betawi yang terbuka sebagai ‘kampung halaman’ bagi para penghuninya. Tidak saja dari suku, ras, agama dan golongan yang ada di Indonesia, bahkan dari berbagai bangsa dan negara. Suasana ini, menurut Abdul Radjak, terutama di Jakarta, harus diciptakan. “Jadikan Jakarta ‘kampung halaman’ metropolis bagi semua orang sebagai wajah Indonesia terdepan,” seru Abdul Radjak.
Tampaknya pergaulan nasional dan internasional, suami Dr Sudinaryati MARS, ini yang sedemikian luas dan luwes telah menempanya berwawasan global dalam jatidiri keindonesiaan yang kuat. Menurutnya, dalam banyak hal termasuk kecerdasan, orang Indonesia tidak kalah dari orang-orang asing. Salah satu karya nyatanya membuktikan keyakinan ini. Dia mendirikan beberapa akademi dan sekolah tinggi dengan kualifikasi mampu bersaing secara global. Dalam kaitan ini, dia punya obsesi agar kiranya Indonesia tidak hanya mampu mengirim tenaga kerja pembantu rumah tangga ke luar negeri. Melainkan juga tenaga-tenaga menengah terampil, seperti perawat, teknisi, pilot dan sebagainya. |
|
| |
|